Seribu Rupiah Untuk Tuhan (2)

Posted on Updated on

Oleh : Chatarina Pantja W.

Aku mengantar kakakku ke sekretariat gereja paroki kami, untuk membawa proposal pembangunan rumah pastor gerejanya di suatu tempat yang terpencil di pulau yang kehidupannya masih jauh dari sejahtera meski sebagian tanahnya subur dan keragaman hayatinya sangat kaya.  

Kakakku hanya bermodalkan proposal dan jejak rekamnya sebagai mantan sekretaris mudika paroki, ia tidak berpikir bahwa pastor-pastor yang sekarang bertugas berbeda dengan pastor-pastor pada masa dia aktif dalam pelayanan.

Kami pun tidak mendapat sambutan yang ramah. Bahkan orang-orang yang ada di kantor sekretariat paroki menolak kami, mereka tidak mengenali kakakku.  Itu sangat wajar, karena kakakku memang sudah hampir dua puluh tahun meninggalkan paroki itu.  

Tapi yang membuat kami sedih, ketika ada seorang yang menolak permohonan kakakku untuk meminta baju bekas misdinar dengan berkata : “Ibu, saya sarankan ibu mengumpulkan kolekte dari umat gereja ibu, jika setiap orang menyumbang seribu rupiah, dan ada 500 orang yang menyumbang, maka akan terkumpul Rp. 500.000,- cukup untuk membeli baju misdinar baru.”

Hari itu kami tidak mendapatkan apa-apa kecuali kesedihan dan luka batin karena penolakan yang kami alami.

Karena tidak ada surat pengantar dari keuskupan tempatnya berasal, kami tidak bisa membawa proposal itu ke kantor keuskupan, dan jika tidak ada rekomendasi dari  keuskupan, kami tidak bisa pergi ke paroki-paroki, karena secara prosedural memang tidak diperbolehkan proposal masuk ke paroki tanpa melalui keuskupan.

Harapan yang tersisa adalah mencari sumbangan kepada orang per orang yang mengenal kakakku dan mengetahui sepak terjangnya di masa lalu, dan tugas itu diberikan kepadaku, karena kakakku harus pulang ke tempat tugasnya, di mana ia menjadi tenaga pengajar di sana.

Tantangan terberatku adalah menyakinkan orang-orang untuk mau menyumbang, menyakinkan mereka bahwa sumbangan mereka benar-benar disalurkan untuk gereja di sana, menyakinkan mereka bahwa aku tidak membawa lari uang mereka.

Karena terlalu banyak penipuan dan orang tidak jujur di dunia ini, aku mendapat imbasnya, mereka sulit percaya dan penuh curiga padaku. Sungguh aku merasakan tekanan batin yang luar biasa, jika tidak memandang salib Yesus, jika tidak demi  mencari dana dan dukungan doa bagi gereja itu,  aku tidak mau melakukannya. Mencari sumbangan tanpa kelengkapan surat-surat dan hanya mengandalkan ketulusan adalah pekerjaan yang tidak mudah.

Dalam satu hari aku hanya mampu mengunjungi 2-3 rumah, karena aku melakukannya dengan berjalan kaki. Seringkali dalam  kunjungan aku tidak mendapatkan sumbangan, karena waktuku habis untuk menjelaskan keadaan gereja, atau terkadang orang-orang yang aku kunjungi justru curhat atau sharing kisah hidup mereka selama berjam-jam, dan aku memberi penghiburan dan mendoakan mereka.

Aku merasakan beratnya mengemis untuk Tuhan. Aku jadi teringat kata-kata seorang panitia KEP (Kursus Evangelisasi Pribadi) di paroki kami yang menolak permohonanku untuk mencari sumbangan di kelas KEP kami. Katanya : “Bu, banyak di antara mereka yang belum mengalami kasih dan kebaikan Tuhan, sulit bagi orang-orang seperti itu untuk menyumbang.”

Kata-katanya benar. Dalam perjalanan mencari sumbangan, hanya orang-orang yang pernah mengalami kasih dan kebaikan Tuhan yang rela memberi bahkan dari sedikit yang mereka miliki.

Orang-orang yang belum menyadari kasih dan kebaikan Tuhan, sulit untuk berempati apalagi berbagi. Dan akhirnya aku menyadari ini adalah pekerjaan Tuhan, aku tidak bisa memaksa orang lain untuk menanggapi tawaran Tuhan untuk terlibat dalam karya-Nya melalui pembangunan rumah pastor itu.

Pada awalnya aku sedih karena sering mengalami penolakan, kini aku sadar, mereka tidak menolakku tetapi menolak kesempatan berbuat sesuatu untuk Tuhan. Aku sedih karena mereka telah melewatkan kesempatan berharga itu.

****

(Terima kasih kepada anda yang telah menyumbang “Seribu Rupiah Untuk Tuhan” melalui penulis atau pun yang langsung ke rekening panitia. Semoga berkat Tuhan berlimpah bagi anda dan keluarga. Amin.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s