Cerita Iman

Posted on Updated on

Oleh : Chatarina Pantja W.

No. 72    Kelas ME   Angkatan I    KEP*  Kristus Raja Surabaya

 

Saya dibaptis saat bayi, menerima komuni pertama pada usia 10 tahun, dan menerima sakramen penguatan pada usia 18 tahun. Saat itu saya mengenal Tuhan Yesus dari pelajaran sekolah minggu dan pelajaran agama di sekolah, tetapi belum mengalami hidup dibimbing Roh Kudus.

Sejak kanak-kanak sampai memasuki usia sekolah hingga lulus kuliah, hidup saya lurus dan mulus, tidak mengalami kesulitan yang berarti. Meski dari keluarga miskin, ayah saya mengutamakan dan mengupayakan pendidikan, dan melakukan apa pun untuk bisa membiayai sekolah anak-anaknya.

Hidup saya berubah penuh kerikil selepas kuliah. Memasuki dunia kerja saya menghadapi kehidupan yang sebenarnya, penuh persaingan dan sangat  keras. Berbeda dengan masa-masa kuliah, di mana saya memiliki banyak teman dan sahabat yang selalu ada untuk mendukung saya, menolong saya, dan menemani saya dalam suka dan duka, di dunia kerja tidak ada teman, setiap orang ingin meraih prestasi kerja yang tinggi, dan tidak sedikit yang melakukan cara-cara licik agar ia terlihat lebih baik daripada orang lain.

Setelah lulus kuliah saya bekerja di tiga tempat dalam rentang empat tahun lebih, dua di bidang pendidikan, dan satu di sebuah industri. Saat itu saya merasa tidak nyaman karena harus bekerja sama dengan orang-orang yang kurang menghargai orang lain, yang menganggap kehadiran orang baru sebagai ancaman, bukan mitra kerja. Saat pimpinan mulai memberi kepercayaan kepada saya untuk tugas dan tanggung jawab yang lebih besar, saat itulah saya mengalami banyak masalah yang cukup berat terkait relasi saya dengan rekan kerja, yang membuat saya terpaksa memilih jalan mengundurkan diri karena tidak tahan dengan tekanan yang terus-menerus saya alami. Kejadian yang sama berulang pada pekerjaan berikutnya.

Melihat kerasnya dunia kerja membuat saya mempertanyakan ajaran cinta kasih. Masih perlukah membicarakan ajaran itu, masih perlukah menerapkan dalam kehidupan sehari-hari jika pada kenyataannya  orang lain tidak melakukannya bahkan berbuat kebalikannya, keras dan kejam pada orang lain. Sejak saat itu saya tidak mau lagi ke gereja, saya kecewa kepada Tuhan yang membiarkan orang lain bersikap tidak adil dan menjatuhkan saya, saya merasa Tuhan membiarkan saya hancur, dan itu sangat menyakitkan.

Harga diri dan pekerjaan yang terhormat adalah tujuan hidup saya, dan ketika semua itu lepas dari genggaman saya, saya benar-benar merasa seperti mati. Saya pun bertanya di mana Tuhan?

Karena trauma dengan dunia kerja yang keras, saya memutuskan bekerja untuk diri sendiri sebagai guru les privat, sementara itu saya masih belum mau pergi ke gereja, antara 3 sampai 4 tahun lamanya.

Saya mengalami pertobatan ketika suatu hari tanpa sengaja saya mendengar kotbah dari siaran radio, seorang pendeta mengutip firman Tuhan;

Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu –yang jauh lebih tinggi nilainya dari emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api – …………… (dari 1 Ptr 1: 7) 

Saat itu saya menangis, saya baru menyadari mengapa saya harus mengalami semua ujian hidup dan penderitaan, karena Tuhan ingin memurnikan iman saya, karena saya begitu berharga bagi Allah, lebih berharga daripada emas -yang dimurnikan dengan cara dilebur dalam tungku api.

Tuhan mau saya percaya dan bergantung pada-Nya, bukan percaya dan bergantung pada manusia.

Juga seperti logam yang ditempa dalam bara api agar dapat dibentuk menjadi sesuatu yang indah dan berharga, Tuhan menempa saya dalam penderitaan untuk menjadikan saya indah dan berharga bagi-Nya.

Pendeta itu juga mengutip firman Tuhan :

Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia………….. dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus………..(berdasarkan 1Ptr 1:18-19)

Saat itu saya merasa dikasihi Allah, karena Tuhan Yesus telah menebus dosa saya dengan darah-Nya yang tercurah di kayu salib, wafat bagi saya, dan kebangkitan-Nya memberi saya hidup baru di dalam Dia.

Sejak saat itu saya kembali ke gereja dan rajin mengikuti Perayaan Ekaristi. Kini Tuhan menjadi tujuan hidup saya, dan saya serahkan seluruh hidup saya kepada-Nya. Segala yang saya kerjakan dan lakukan saya persembahkan untuk Tuhan, untuk memuliakan nama-Nya.

Puji Tuhan, kini saya bisa membantu teman dan saudara yang mengalami kepahitan hidup seperti yang pernah saya alami dahulu, memberi penghiburan dan menguatkan sehingga mereka tidak perlu mengalami kehancuran dan trauma seperti yang pernah saya alami.

***

(Ditulis untuk tugas KEP* = Kursus Evangelisasi Pribadi, Bab VI : Sharing Iman)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s