Tuhan, Pelindung Kami

Posted on Updated on

“Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib.” (Mazmur 9:2)

Sekitar pukul 09.00 saya keluar dari ruang adorasi gereja katedral, setelah selama satu jam mengunjungi Sakramen Mahakudus, dan sebelumnya mengikuti misa harian pukul 06.15 pagi di gereja katedral itu. Saya melakukan semua itu selama satu minggu dan setiap hari demi mendoakan keponakan saya yang sedang menghadapi masalah yang cukup berat. Saya merasa perlu membentengi diri dengan misa dan adorasi karena yang saya hadapi adalah kuasa kegelapan, dan hanya Tuhan yang bisa menolong.

Ini bukan yang pertama kalinya saya mendoakan keponakan saya, pada tahun 2011 yang lalu, saya juga melakukan  hal yang sama. Cobaan terberat saya saat itu adalah pada hari kedua saya terjatuh setelah keluar dari ruang adorasi, tanpa sebab. Kaki saya pincang dan tak bisa berlutut selama dua minggu lebih, tapi musibah itu tak menghentikan niat saya untuk mengikuti misa harian dan adorasi, demi memenuhi janji saya kepada Tuhan, berdoa untuk keponakan saya yang sedang menghadapi masalah.

Dan siang itu, hari kedua saya mengikuti misa harian dan adorasi, kejadian tahun 2011 itu seperti terulang lagi dengan cara yang berbeda, hari itu, hari kamis, 31 Mei 2012, saat pulang dari gereja katedral, saya tidak tahu pasti jam berapa ketika saya  turun dari angkutan umum pertama untuk menunggu yang kedua, mungkin antara jam 09.30 – 09.45, yang saya tahu pasti saya berjalan di tepi, benar-benar di tepi jalan. Dan saya begitu terkejut ketika ada mobil yang melaju dari arah belakang, tanpa jarak, menyerempet panggul saya, sepersekian detik kemudian lengan saya terayun ke depan karena benturan keras dengan spion mobil. Brak!!! Spion mobil jatuh dua meter dari tempat saya berdiri. Dan mobil itu berhenti setelah mendengar suara benda jatuh, beberapa meter dari tempat jatuhnya spion. Saat itu yang saya rasakan adalah sakit, ngilu dan panas dari ujung jari tangan sampai lengan. Lingkaran panas terasa di telapak tangan menembus tulang.

Anehnya, pengemudi mobil tidak turun untuk melihat keadaan saya, tanpa membuka kaca jendela ia membunyikan klakson. Dengan tangan kanan kaku dan siku terlipat, saya membungkuk memungut spion dengan tangan kiri, melangkah menuju mobil, mengetuk kaca jendela dan memberikan spion itu kepada sang pengemudi. Saya tidak marah, hanya ingin melihat wajah pengemudi mobil yang menabrak lengan saya. “Maaf, Bu,” kata pengemudi mobil, seorang pemuda, yang mungkin tak sepenuhnya menyadari bahwa ia baru saja menabrak lengan tangan saya, mungkin ia pikir mobilnya menyerempet motor, bukan pejalan kaki seperti saya.  Saya berlalu meninggalkannya, mencoba memaafkannya.

Saya telah melihat bagaimana Tuhan menolong saya dengan mukjizatnya, melihat bagaimana KUASA  dan PERLINDUNGANNYA atas hidup saya. Tuhan telah menjaga lengan saya dan membuatnya kuat saat mengalami benturan dengan spion mobil hingga spion itu terlepas dan jatuh, maka saya tak perlu takut lagi, karena Tuhan yang akan menjaga dan melindungi saya, keluarga saya dan orang-orang yang saya doakan.

TUHAN, AKU PERCAYA KEPADAMU.

(Surabaya, 31 Mei 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s