Tentang Kematian

Posted on Updated on

Oleh Chatarina Pantja W

Seorang perempuan membimbingku menuju peti jenasah yang telah tertutup rapat, aku tidak tahu siapa yang berada di dalam sana. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa sampai ke rumah duka itu. Aku berdoa di depan peti jenasah mendoakan arwahnya agar mendapat belas kasih dan kerahiman Allah.

Berdoa di depan peti jenasah adalah kehormatan bagiku, mendoakan jiwa orang meninggal  adalah doa yang terindah, tidak penting apakah aku mengenal mereka atau tidak, karena dengan mendoakan mereka aku juga berdoa untuk diriku, karena aku hidup sendiri, tak memiliki keluarga, tak memiliki anak,  tak akan ada yang mendoakan jiwaku saat aku mati, jadi aku harus menabung doa sendiri.

Usai berdoa aku meninggalkan rumah itu, rumah duka yang kosong, hanya ada seorang ibu yang mengantarku, dan seorang lagi laki-laki yang wajahnya tak kukenali. Sepi, sepertinya aku adalah pelayat pertama yang datang. Dan pertanyaan yang mengganggu pikiranku tapi urung kutanyakan pada perempuan itu adalah siapa yang meninggal, apakah aku mengenalnya. Aku jelas-jelas tak mungkin menanyakan itu, bahkan perempuan itu pun aku tak mengenalnya.

Saat meninggalkan rumah itu aku melihat pot-pot tanaman yang kosong di halaman depan. Aku tak tahu apakah pot-pot itu baru dibeli atau kosong karena tanah dan tanamannya baru saja dibuang karena mati dan kering. Meski heran dengan pemandangan yang tak biasa itu aku menutup mulutku untuk tidak lancang bertanya, karena aku tahu bukan saat yang tepat untuk bertanya tentang hal di luar  kematian dan pemakaman saat melayat.

Dan aku juga tak mungkin bertanya karena tak ada orang lain di situ, perempuan yang mengantarku ke peti jenasah juga telah menghilang. Semua menghilang dari pandanganku, dunia tak nyata yang hanya ada di dalam mimpi, dan aku pun memaksa otakku untuk segera bangun dari tidur.

Aku bangun dari tidur. Kurasakan kesunyian malam menjemput pagi, dingin menyergap lalu melenyap. Aku tahu kematian adalah misteri dan hanya pemilik hidup yang tahu, sang pencipta yang memberi nafas dan mengambilnya sewaktu-waktu seperti pencuri di malam hari, tapi entah mengapa aku selalu ingin tahu siapa yang akan mati, meski aku tahu tak akan tahu, sampai ada berita kematian, sampai aku melayat beberapa hari kemudian, dan kali ini rasa ingin tahuku lebih besar dari biasanya.

Aku sering mendapatkan perlambang kematian dalam mimpi, meski tak pernah jelas siapa yang meninggal, tapi saat melayat aku selalu mengalami deja vu, tempat dan setiap sudut tempat, jalan dan setiap tikungan semuanya sudah aku lihat lebih dulu dalam mimpi.

Bahkan bukan hanya dalam mimpi, beberapa kali aku mendapat penglihatan saat aku menutup mata ketika berdoa, atau sebelum tidur, melihat kematian seperti melihat sebuah foto yang muncul lalu bergeser menghilang seperti tampilan  slide.

Semua berawal saat bapak koma dua minggu lebih di rumah sakit, aku bisa mendengar kata-kata dan keinginannya, dengan suara yang jelas di telingaku, bukan mimpi atau halusinasi, bahkan saat aku berada jauh darinya, aku dapat mendengarnya, semacam telepati karena ikatan batin yang kuat.

Setelah bapak meninggal, aku bisa merasakan kehadirannya dalam getaran dan energi yang kuat yang mendebar kencang jantungku. Sejak saat itu aku menjadi peka terhadap sesuatu yang tak bisa dilihat. Aku bisa mendengar suara-suara di tengah malam yang sunyi, aku bisa merasakan energi yang datang atau pun melintas.

Aku telah terbiasa dengan mimpi kematian, aku bahkan pernah bermimpi tentang kematianku sendiri atau lebih tepatnya mimpi akan mati, mimpi yang begitu nyata. Saat itu aku berada di sebuah pintu menuju lorong dengan cahaya putih berupa titik di ujung yang jauh.

Aku mendadak bisu, berusaha melawan bisu, mencoba melafalkan kata pertama dari doa tapi tak bisa, tak bisa bersuara bahkan di dalam hati,  tapi aku tak menyerah, berjuang keras mengingat sebuah doa, dan berharap ingatan itu menjadi doa,  tapi betapa terkejutnya aku karena aku pun tak mampu mengingat satu doa pun, bahkan seru doa yang paling sederhana sekalipun.

Aku benar-benar bisu, lidahku tak bisa digerakkan. Aku berjuang keras untuk menyebut nama Tuhan, berharap seru itu akan diterima Tuhan sebagai doa terakhirku sebelum tubuhku masuk ke pusaran energi yang menarikku seperti magnet, aku dan ujung lorong dengan cahaya putih itu seperti dua kutub magnet yang berbeda muatan dan saling tarik-menarik, dan tentu saja ujung lorong itu yang akan menarikku karena dayanya yang sangat besar. Aku merasa benar-benar tak mungkin lagi terselamatkan.

Aku berjuang melawan daya magnet yang menarikku itu, sesuatu yang tak mungkin tapi aku percaya tak ada yang tak mungkin bagi Tuhan, aku  berjuang seperti orang bisu yang ingin bersuara mengeja dan perlu waktu lama untuk mengucap dua suku kata  ‘BA…..PA…..’ sampai akhirnya aku terbangun dari mimpi dengan nafas terengah-engah dan keletihan yang luar biasa.

Udara semakin rapat, hingga semakin jelas kudengar suara-suara yang datangnya dari tempat yang jauh, membuatku begitu sulit untuk tidur lagi. Dan wajah perempuan yang mengantarku berdoa di depan peti mati, terus membayangiku. Gelisah aku membayangkan andai aku yang berada di dalam peti mati itu.

Setelah satu kali menolak mati dalam mimpi, dan dua kali menolak mati saat mengalami serangan jantung dengan mantra-mantra doa (meski belakangan aku sadar, itu semua karena belum saatnya aku mati, bukan karena permintaanku atau pun karena doa-doa sakti itu) tapi aku merasa untuk berikutnya aku tak mungkin bisa lolos lagi bila Tuhan menghendaki aku mati.

Tuhan pasti tersenyum melihat semangat hidupku yang begitu tinggi, padahal serangan jantung yang mendadak dan berakibat pada kematian  adalah cara mati yang diimpikan oleh orang-orang yang hidup sendiri seperti aku. Tapi aku justru mati-matian berjuang untuk tidak mati saat itu.

“Ibunda Uskup meninggal, jenasahnya disemayamkan di gereja katedral. Malam ini ada misa tutup peti,” seorang teman mengabariku dua hari kemudian.

Aku tercekat dalam bisu, tak ada rasa lega meski mimpi itu telah mewujud nyata dan kenyataannya bukan aku yang mati. Ah, tentu saja aku tak mungkin bermimpi tentang kematianku sendiri, bukankah kematian itu datangnya seperti pencuri di malam hari, tanpa permisi.

Dan saat aku yang akan mati, aku pasti gelisah tanpa alasan, bersikap aneh dan tak biasanya, yang dibaca sebagai firasat oleh orang lain, tapi firasat yang selalu terlambat dipahami, dan baru disadari setelah seseorang mati, dan aku yang akan mati pun terlambat menyadari bahwa waktuku sudah habis.

Hal yang kutakutkan adalah aku tak sempat berdoa dan mohon ampun saat rohku terlepas dari raga ini, dan tak ada yang membimbingku berdoa saat itu terjadi, seperti aku yang menuntun doa saat ibuku hendak menghembuskan nafas terakhirnya.

Keesokan harinya, pagi-pagi aku pergi ke gereja katedral untuk mengikuti misa harian sekaligus memberikan penghormatan terakhir kepada almarhumah ibunda uskup. Usai misa, satu persatu umat berdoa di depan peti jenasah yang diletakkan di depan tengah, di antara baris depan bangku-bangku panjang dan anak tangga menuju altar gereja.

Aku menunggu sepi, aku ingin berdoa khusus untuk ibunda uskup, tanpa tergesa-gesa, tanpa merasa bersalah jika berdoa berlama-lama karena ada orang lain yang juga ingin memberi penghormatan terakhir.

Aku ingin berdoa di depan peti jenasah bukan karena beliau ibu dari uskup. Aku berdoa karena dua hari sebelumnya aku telah melihat kematian itu, meski saat itu aku belum tahu siapa. Mimpi dan kenyataan itu telah membuat aku terhubung dengan seorang ibu yang telah tidur dengan tenang dan bersiap menuju kerajaan Allah di surga.

Gereja mulai sepi tinggal beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari. Aku bangkit dari dudukku di bangku barisan belakang, dengan langkah pelan aku menuju peti jenasah, dengan rasa ingin tahu aku menatap foto almarhumah ibunda uskup, yang dari jauh sungguh tak bisa kulihat karena pandanganku yang kabur akibat mata minusku.

Dan betapa terkejutnya aku melihat wajah ibu itu sama seperti wajah perempuan dalam mimpi yang mengantarku berdoa di depan peti jenasah.

Aku berusaha berdiri tegar, meski sesungguhnya aku lemas lunglai setelah melihat foto itu. Aku tak mengenal ibunda uskup, tidak juga keluarganya. Bagi umat katedral bertemu uskup adalah hal yang biasa, uskup juga memimpin misa minggu atau pun misa harian. Tapi bagi umat di gereja paroki lain bertemu uskup adalah sesuatu yang mewah, aku bahkan belum  pernah bertemu langsung dengan uskup, belum pernah melihat gambar wajah beliau sejak ditahbiskan menjadi uskup baru tiga tahun yang lalu menggantikan uskup lama yang meninggal dunia.

Sungguh mengejutkan aku  bertemu ibu itu dalam mimpi dua hari yang lalu, seseorang yang tidak aku kenal sebelumnya di dunia nyata. Aku berdoa di depan peti jenasah seperti seorang anak yang lama mengenal seorang ibu. Aku, ruang sunyi, dan ibu itu…..bibirku gemetar mengucap setiap kalimat doa, “Tuhan, ampunilah dosa-dosanya dan berilah tempat yang terbaik di dalam kerajaan kasihMu.”

Kubuka mata, kubiarkan air mataku jatuh. Doa telah menghubungkan aku dengan Allah, doa seperti tali yang menyatukan banyak jiwa yang percaya kepada Allah, jadi mengapa aku takut mati dalam kesendirian, karena aku tidak sendiri, aku bersama doa-doa itu.

*****

Surabaya, April 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s