Kuasa Doa Koronka (part.1)

Posted on Updated on

Badai Januari

Aku tidak akan pernah melupakan hari itu dan tidak berniat melupakannya. Hari itu, jumat, 16 januari 2009, sekitar pukul 16.00 wib, aku mendengar suara hujan dan benda-benda jatuh , suaranya sangat keras. Aku berlari ke halaman belakang rumah untuk melihat apa yang terjadi.

Hujan deras disertai angin kencang, membuat jantungku berdegup kencang dan semakin kencang, saat kulihat pusaran angin berbentuk kerucut besar menghantam tembok rumahku, terus berputar mematahkan tepi asbes dan menerbangkannya.

Pusaran angin terus bergerak menghantam tembok rumah tetangga, lalu seperti bumerang, pusaran itu kembali bergerak ke arah rumahku. Pusaran angin yang membawa pecahan-pecahan asbes itu bergerak menuju ke arahku, ke tempat di mana aku berdiri.

Dalam hitungan detik, aku berpikir tentang kematian, tentang kemungkinan diterjang pecahan asbes yang cukup besar dan tak terselamatkan. Pada detik yang sama aku percaya Tuhan maha kuasa.

Aku berlari secepat kilat dan berteriak , “Demi sengsara Yesus yang pedih tunjukkanlah belas kasihMu…..”

Aku terlempar ke dalam rumah. Kursi-kursi dan benda lainnya terlempar, menabrak pintu dan membentur lemari. Dengan tubuh lemas dan gemetar , aku berdoa dan menangis , “…..tunjukkanlah belas kasihMu kepada kami dan seluruh dunia.”

Tuhan Yesus meredakan badai.

Tuhan sungguh-sungguh telah meredakan badai, 2000 tahun yang lalu maupun hari itu.

Pusaran angin itu terpecah kekuatannya saat menghantam tembok rumahku. Dan seperti ada malaikat pelindung, pecahan asbes itu jatuh di luar tembok di samping rumahku, dan sebagian lagi terlempar ke luar tembok bagian belakang rumah.

Aku tak akan pernah melupakan hari itu, saat Tuhan menyatakan kasihNya padaku.